today's date

Saturday, April 15, 2006

Dukung musik Indonesia!

Pernah memandang sebelah mata musik Indonesia? Wahh..anda salah sekali!!! Industri musik Indonesia kini telah jauh berkembang apabila kita ingin bandingkan 10-20 tahun yang lalu. Para insan musik di negara kita telah mampu melalang buana ke manca negara, bukan hanya di sekitar Asia Tenggara saja.

Seperti yang kita telah ketahui grup band seperti: Saykoji, Helena, Ello, Mike, Dewa, Project Pop, Padi, Radja, Peterpan, dll; mereka merupakan contoh grup band yang mampu mengambil hati penikmat musik di negara-negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Hal ini terbukti dimana 22 nama artis musik Indonesia masuk nominasi di delapan kategori terbaik Anugerah Planet Muzik (APM) 2006.

Sebuah penghargaan tahunan yang digelar 24 Maret 2006 yang lalu untuk para insan industri musik rekaman dari tiga negara Asia Tenggara, yaitu: Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

Hal pertama yang mungkin terlintas dalam pikiran kita adalah, mereka mampu menjadi pop star di manca negara karena mereka mendapat dukungan dari record label yang memang telah dikenal secara Internasional. Tapi jangan salah, para insan musik Indonesia yang berkecimpung di indie label juga tidak kalah hebatnya. Mereka adalah para musisi yang memiliki idealitas yang tinggi dalam menyalurkan kreativitas mereka dengan menggabungkan melodi, harmoni, dan kata-kata. Contoh yang paling relevan adalah MOCCA. Band asal Bandung ini dinaungi oleh FFWD record, sebuah indie label yang pernah menangani band-band seperti: Homogenic dan Pure Saturday. Walaupun dibawahi oleh indie label, band yang vokalisnya merupakan adik dari novelis Dewi Lestari, kini telah dikenal hingga ke negeri matahari (red. Jepang). Berita terakhir dari mereka, tahun lalu MOCCA berhasil menjadi pengisi acara di sebuah festival musik di Okinawa, dan baru-baru saja meyelesaikan tur mengunjungi Malaysia dan Singapura. Guna menjaring lebih banyak penggemar secara nasional dan internasional, selain menggunakan bahasa Inggris dalam lirik lagu-lagunya, MOCCA juga menggunakan medium internet guna mempromosikan bentuk lagu retro pop jazz yang tampaknya berhasil menarik banyak penggemar. Di website mereka (www.mymocca.com) kita dapat mendownload podcast yang dibuat band ini, sebuah strategi marketing yang inovatif untuk sebuah band yang baru menelurkan 3 buah album. Untuk kedepan, seperti yang dilansir dari mymocca.com, di masa mendatang mereka juga akan membuat video podcast. Tentunya selain MOCCA masih ada juga grup band Indonesia lainnya yang telah berhasil menarik minat dari pendengar musik internasional, contoh: KOIL, Pure Saturday, Seringai, Teenage Death Star, The Adams, etc.

Tapi dibalik semua cerita kesuksesan tersebut, masih ada sebuah ketimpangan di dalam industri musik Indonesia. Satu hal yang telah membawa nama buruk bagi negara kita adalah: PEMBAJAKAN. Di seluruh kota-kota besar di Indonesia kita akan selalu menemukan para penjaja kaset atau cd bajakan. Tidak hanya di pinggiran jalan, pasar, atau di mal, bahkan ada orang-orang yang berani menjual
barang-barang ini di bersebelahan dengan kantor polisi!!! Tapi tetap saja para aparat keamanan ini tidak melakukan apapun?!? Hal ini terbukti bagaimana pemerintah tidak mengambil perhatian khusus bagi masa depan para insan musik Indonesia. Menurut laporan The International Federation of the Phonographic Industry (ifpi) tahun 2005, Indonesia menjadi salah satu negara teratas di dunia dengan kadar pembajakan sebesar 80%. Dengan nilai pembajakan sebesar itu, industri musik Indonesia telah mengalami kerugian sebesar Rp 16 triliun/tahun, sedangkan nilai kerugian pendapatan pajak tahun 2004 lalu mencapai Rp 1,189 triliun. Mengapa hal ini dapat terjadi? Padahal landasan hukum untuk melindungi para musisi kita telah tersedia, yaitu UU Hak Cipta nomor 19. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah kita mau mengambil kebijakan dalam hal ini!

Untuk menunggu pemerintah kita mengambil inisiatif dalam mengatasi pembajakan yang sudah menjamur, tentunya akan menghabisakan waktu yang cukup lama, dimulai dari proses birokrasi dan rapat-rapat yang tiada habisnya. Tanggal 9 Maret setahun yang lalu, Indonesia memperingati Hari Musik Indonesia. Sebuah hari dimana para seniman kita turun ke jalan untuk memberi himbauan kepada masyarakat Indonesia bagaimana pembajakan telah merampas income mereka. Untuk itulah kini saatnya kita mulai menghargai musik Indonesia baik itu traditional music ataupun popular music. Bagaimana caranya??? Kita bisa memulai dengan membeli kaset atau cd asli, daripada membeli cd bajakan yang dapat kita peroleh di beberapa tempat di Jakarta dengan harga Rp 5.000,- . Atau kita bisa membeli lagu-lagu ini di dunia maya. Seorang jurnalis dan penikmat musik indie Indonesia bekerjasama dengan sebuah produk rokok yang cukup terkenal di Indonesia, telah membuat website khusus dimana penikmat popular music Indonesia bisa mendapatkan lagu-lagu keinginannya hanya dengan sebuah klik dari tombol mousenya. Bahkan website ini memberikan kesempatan bagi para band baru untuk mempromosikan karya mereka di internet. Silahkan dilihat saja di website ini http://www.equinoxdmd.com/

Inti dari wacana ini adalah, bagaimana kita tidak bisa menunggu pemerintah untuk melindungi hak cipta dari para seniman Indonesia. Semua itu harus berawal dari hati nurani kita yang paling dalam. Dengan mendukung musik Indonesia, maka kita akan menyelamatkan mata pencaharian seniman Indonesia!!! WT.


Wisnu Tri adalah Mahasiswa Mass Communication and Music and Media Management di London Metropolitan University